Kamis, 20 Desember 2018

Resuman Kelompok 12

12. Upacara Kelahiran, Perkawinan, dan Kematian dalam agama Hindu

Ebook/Jurnal Hindu Budha di Indonesia

Ebook dan Jurnal Hindu dan Budha 

1. Jejak- Jejak Peradapan Hindu dan Budha Di Nusantara 

Peradaban Hindhu Budha di Nusantara ditandai dengan Munculnya Kerajaan-kerajaan Kuno di Indonesia pada abad ke 4-5 Masehi.

 https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjV3ZL5-q3fAhUDto8KHRtjBCcQFjAAegQICxAC&url=https%3A%2F%2Fjurnalarkeologi.kemdikbud.go.id%2Findex.php%2Fkalpataru%2Farticle%2Fview%2F49%2F25&usg=AOvVaw2ZlQMPbtiTZ3zXRw9y9M-F




2. Periode “Hindu – Buddha” dalam Buku Teks Sejarah Nasional 

Membicarakan mengenai Sejarah Indonesia tidak lengkap rasanya jika tidak membahas mengenai periode Hindu-Budha. Periode Hindu-Buddha bahkan dijadikan masa tersendiri dalam kajian Sejarah Indonesia. Hal ini karena sumbangan dari periode ini sangat lah besar terhadap perjalanan Sejarah Indonesia. Misalnya mengenai pembentukan kebudayaan, konsep kepercayaan monotheis, dan lain-lain.




  

3. Pendidikan Agama Hindu 

Konsep dan urgensi Pendidikan Agama Hindu dalam membangun basis kepribadian humanis bagi mahasiswa, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan agama Hindu yang diberikan di perguruan tinggi sebagai MKWU, diharapkan mampu membentuk kemampuan dan kepribadian diri peserta didik dalam membangun karakternya untuk menjadi manusia yang cerdas dan bermartabat serta sraddha dan bhakti (iman dan takwa) kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab. 








4. Ajaran Budha dan Kematian

Tradisi Budhisme Menyepakati bahwa kematian dalam ajaran budha tidak ditentukan semata-mata oleh faktor fisik. Faktor batin yang mencakup kesadaran dianggap berperan sebgai faktor utama kematian menurut pengertian budhis.





5. Perkembangan Hindu dan Budha Indonesia

Agama Hindu di sebarkan oleh Bangsa Arya (Bangsa Pendatang) setelah masuk melalui celah Carber yang memisahkan daratan Eropa dan Asia. Bangsa Arya merasa nyaman tinggal karena India adalah daerah yang subur. Bangsa Arya mengalahkan Bangsa asli India (Dravida). Cara Bangsa Arya mengeksistensikan bangsanya di India dengan cara membuat Kasta, yaitu pelapisan masyarakat. Perbedaan Bangsa Arya dengan Bangsa Dravida itu sendiri terdapat pada bagian fisiknya, yaitu Bangsa Arya berkulit putih sedangkan Bangsa Dravida berkulit hitam. Pusat kebudayaan Hindu adalah di Mohenjo Daro (Lakarna) dan Harapa (Punjat) yang tumbuh sekitar 1.500 SM. Agama Hindu dalam pelaksanaan ritual ibadah (penyampaian doa kepada dewa) harus di lakukan oleh Kaum Brahmana saja. Sehingga kaum-kaum di bawahnya merasa kesulitan ketika kaum Brahmana meminta qurban (pembayaran yang berlebih) kepada kaum-kaum di bawahnya yang meminta tolong untuk disampaikan doanya kepada dewa-dewa mereka.





 

Minggu, 16 Desember 2018

Hasil Observasi Vihara Vipassana Graha

VIHARA VIPASSANA GRAHA


                  Meditasi Vipassana Graha. Letaknya yang di kawasan Lembang membuat tempat ini menjadi sejuk dan sangat ideal untuk melakukan meditasi. Saat memasuki kawasan yang kira-kira seluas 2 hektar itu membuat kita seolah-olah berada di Thailand, karena desain bangunan yang ada menyerupai kuil-kuil yang berada di Thailand.


                   Tempat ini digunakan sebagai tempat ibadah umat Budha, tapi juga terbuka untuk umum bagi yang ingin berkunjung kesana. Tapi harap diingat, karena ini adalah tempat ibadah maka harap menjaga kesopanan dan datang dengan sikap hormat dan menghargai. Untuk memasuki tempat ini tidak dipungut bayaran sama sekali.
 
                   Di dalam candi utama terdapat lukisan Kelahiran dan Parinibbana Sang Buddha. Di dalam candi atas terdapat patung Buddha Rupang yang terbuat dari batu giok asli. Di sekeliling dinding candi atas terdapat relief-relief yang menggambarkan Riwayat Hidup Sang Buddha. Di candi bagian bawah terdapat relief alam surga dan neraka. Empat candi kecil yang mengelilinginya merupakan simbol dari Empat Kesunyataan Mulia. Pada dinding candi kecil terdapat relief dari empat posisi/arah Sang Buddha.



              



Di samping candi Maha Panca Bala, terdapat gedung yang bernama Dhammasala 10.000 Budha. Mengapa dinamakan demikian ? Karena di dalam gedung ini terdapat 10.000 buah patung Budha sumbangan dari para donatur. Pada setiap patung tersebut tertera nama penyumbangnya. Dan di ruangan ini terdapat altar dengan Buddha Rupang Utama dalam posisi Abhaya. Di depan gedung ini terdapat 7 patung Budha yang memberi simbol hari.



            Selain itu, umat Budha juga bisa mengikuti perjalanan 108 Arahat. Dimana umat akan berjalan mengelilingi bagian bawah candi sembari membawa koin dalam gelas yang jumlahnya berbeda-beda namun mempunyai ukuran berat yang sama dan berjalan memasukkan koin-koin tersebut ke dalam 108  mangkuk yang sudah disiapkan. Jika koin kita habis maka kita tinggal menghitung berapa mangkuk yang belum kita isi dan juga sebaliknya jika koin berlebih dihitung berapa jumlahnya. Dari sana kita mengambil petunjuk hidup kita sesuai dengan jumlah kekurangan atau kelebihan koin. Petunjuk tersebut bermacam-macam, ada yang mengatakan jika pikiran kita bercabang maka kita tidak akan sukses, ada petunjuk untuk sukses dan bahagia, ada juga yang menyatakan agar kita selalu merasa puas dengan apa yang kita dapatkan.


        Di seputar vihara terdapat taman-taman dengan bunga yang indah, dan terdapat kalimat-kalimat bijak tersebar di pohon yang terdapat disana. Di bagian depan gedung serba guna terdapat patung dua ekor gajah putih yang sedang mengangkat Roda Dhamma (Dhammacakka) dengan belalainya. Dan di samping candi terdapat Tugu Asoka untuk mengenang Raja Asoka. Tingginya tujuh meter, dengan bagian bawah pilar terbuat dari batu granit, sedangkan tiangnya terbuat dari beton. Pada puncak pilar tersebut terdapat empat buah patung singa terbuat dari tembaga yang ditempa, yang menghadap empat penjuru mata angin, yang mana di antara punggungnya diletakkan sebuah Roda Dhamma (Cakka), dan pada bagian bawah pilar terdapat tulisan yang mengajarkan agar kita umat berbeda-beda agama saling menghormati dan mempelajari ajaran yang baik dari setiap agama.

Foto Bersama Bante Sudasilo

Hasil Observasi pura Amerta Jati Cinere


1.        SEJARAH SINGKAT PURA AMERTHA JATI



Gambar 1.1 Prasasti pengesahan Pura Amerta jati
Setelah peristiwa G30S/PKI, pada saat itu Suharto menginginkan setiap komplek TNI  baik AL, AS, AU harus ada tempat-tempat persembahyangan berupa Masjid, Pura dan Gereja. Tujuannya adalah untuk saling mengerti dan saling bertoleransi antar umat beragama.
Pada awalnya tempat untuk mendirikan pura ini adalah di lokasi yang memang berdekatan dengan masjid dan gereja. Namun, menurut pandangan orang bali tempat itu terlalu bagus jika didirikan sebuah pura. Maka dari itulah mereka memilih tempat yang lokasinya di jalan Punak, dahulu adalah sebuah rawa, hutan rimba dan tempat yang kotor. Menurutnya, tempat yang bagus adalah tempat yang diawali dengan tempat yang jelek.
Pada tanggal 3 Juli 1985 inilah, berdirinya Pura Amertha Jati dengan surat izin yang deberikan oleh AL.

Nama-nama Tempat dalam Pura
1.        Nistaning Mandala

Gambar 1.2 Nistaning Mandala
Adalah halaman utama pura. Bisa digunakan untuk tempat parkir dan sebagainya.
2.     Mandalaning Madya


Gambar 1.3 Mandalaning madya
Yaitu latar atau bagian tengah pura
·         Wantilan (tempat ganti pakaian, atau tempat bergantian orang2 yang akan melakukan sembahyang)
·         Gedung muhasabah (gedung untuk sekolah, terdapat  1-6 kamar (kelas).

3.     Utamaning Madya Yaitu tempat persembahyangan yang ada di pura
a.      Bagian luar

Gambar 1.4 Qori Agung
·         Qori Agung (Pintu untuk keluar masuk saat akan melakukan ritual (sembahyang). Pintu ini hanya khusus untuk umat hindu saja. Untuk orang-orang biasa melewati pintu sebelah kanan (masuk) dan pintu sebelah kiri (keluar).
b.      Bagian dalam
1.        Bale Pepelik


Gambar 1.5 Bale Pepelik
Pepelik sendiri artinya rumit, jadi ini adalah tempat untuk memecahkan masalah atau tempat rapat untuk para dewa. Bale pepelik terletak di bagian dalam utamaning mandala bangunan pura. Kalau kita masuk dari pintu Qori Agung bale ini terletak di samping kiri. Namun, jika kita masuk melewati pintu masuk umum biasa bale ini terletak pas di dekat pintu masuk.

2.     Padmasana : Stana Tuhan

Gambar 1.6 Padmasana atau Stana Tuhan

Padmasana atau biasa disebut dengan Stana Tuhan adalah sebuah tempat untuk bersembahyang dan menaruh sajian bagi umat Hindu terutama Hindu di Indonesia. Padmasana terdiri dari dua kata yaitu “Padma” yang artinya adalah bunga teratai, atau bathin, atau juga pusat. Dan “Sana” artinya sikap duduk, tuntunan, atau nasehat, atau perintah. Maksudnya yaitu Padmasana adalah tempat duduk dari teratai merah sebagai stana suci Tuhan Yang Maha Esa. Bunga teratai ini adalah simbol dewa-dewa dan Sang Hyang Widhi. Padmasana ini letaknya disamping kiri setelah bale pepelik.
3.     Bale Penglurah

Gambar 1.7 Bale Penglurah

Penglurah asal katanya adalah “Lurah” yang artinya adalah pembantu. Menurut penjelasan dari bapa Ide Bagus S sendiri pengrurah ini adalah tempat untuk penjagaan. Yaitu penjagaan untuk para dewa dan dewata. Kain yang terdapat dalam bale ini fungsinya hanya sebagai untuk keindahan. Letaknya di sebelah Padmasana.
4.      Taman Sari

Gambar 1.8 Taman Sari
Taman Sari adalah Tempat Mandi untuk para dewa. Taman sari juga biasanya digunakan untuk sembahyang dan bersemedi oleh umat Hindu  tersebut.
5.     Bale Penyimpanan

 Bale Penyimpanan adalah tempat untuk penyimpanan barang-barang suci
6.     Bale Pawedan

Bale Pawedan adalah tempat Pandhita (Imam)
7.      Bale Panjang ialah tempat untuk sembahyang jika saat hujan dan tempat untuk rapat umat Hindu
8.     Bale Petirtan 


Bale Pertirtan adalah tempat air suci
9.     Bale Pawedan Pinandhita


3.                 KEGIATAN PURA
a.                  Kegiatan Umum
Melakukakan serangkaian acara yang berkaitan dengan agama Hindu
·         Hari Raya Nyepi (dilakukan 1 tahun 1 kali) : ritual tanggal 27 maret 2017- hari raya tanggal 28 Maret 2017
·         Galungan (Hari Kemenangan)  : 5 April 2017
·         Kuningan      : 15 April 2017
·         Upacara purnama (Bulan Besar)  : 11 April 2017
·         Upacara Tilem (Bulan Mati)   : 25 April 2017
·         Dharmasanti Nasional (Halal Bi Halal) : 22 April 2017
·         Pagar wesi     : 30 Agustus 2017
4.                  FUNGSI PURA AMERTHA JATI
1.        Pura adalah sebagai Dewa Pratista dan juga sebagai Atma Pratista, artinya pura adalah tempat pemujaan dewa dan juga tempat pemujaan atma (roh suci). Mpu Kuturan menekankan pada pemujaan kepada dewa-dewa sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena pada waktu itu daya nalar dari umat relatif rendah.
2.      Walaupun Ida Sang Hyang Widhi Wasa Wyapi Wyapaka dan Nirwikara, tetapi Mpu Kuturan melakukan pengembangan fungsi Pura agar lebih mudah menghayati kehadiranNya, dimana pura disamping sebagai tempat penghayatan dan persembahyangan, maka pure adalah juga tempat untuk berkesenian; tempat berbudaya ; tempat bersosial dan sebagainya.
Fungsi Pura dalam kegiatan masyarakat hindu cinere
1.        Fungsi Keagamaan
Pandangan  masyarakat Hindu di daerah Cinere tentang kesucian yang berhubungan dengan sukla dan lungsuran. Sukla adalah sesuatu yang masih baru, tidak tercemar. Agama Hindu sangat kaya akan makna dengan aneka ritual hal ini didefinisikan dengan suatu bentuk upacara atau perayaan yang berhubungan dengan beberapa kepercayaan atau agama dengan ditandai oleh sifat khusus yang menimbulkan rasa hormat yang luhur yang merupakan suatu pengalaman yang suci.
Lungsuran  adalah kebalikan dari pengertian sukla, yakni sarana persembahyangan atau sesajen yang telah dipersembahkan.
Kesucian bagi masyarakat Hindu adalah kebutuhan dalam rangka untuk berkomunikasi dengan TuhanYang Maha Esa secara terus-menerus karena asal mula dari Tuhan danakan berlangsung atas kehendak Tuhan juga serta akan kembali keasalnya yaituTuhan.
2.                 Fungsi Pendidikan
Pura selain digunakan untuk kegiatan sosial keagamaan jugadigunakan untuk kegiatan pendidikan yang memang nantinya menjadi tempat untuk menimba ilmu bagi generasi yang akan datang. Sesuai dengan perkembangan lingkungan, muncul wacana untuk menjadikan pura bukan saja sebagai tempat memuja Tuhan dalam berbagai manifestasinya. Tetapi juga sebagai tempat melakukan pendidikan.
Berbagai fasilitas nonsakral dari pura.seperti wantilan, toilet dan sebagainya. Akan lebih terawat dibandingkan kalau pura hanya dikunjungi pada saat piodalan. Dan juga tidak kalah pentingnya, dengan adanya aktivitas pendidikan di pura, berbagai aktivitas yang berkonotasi negatif seperti kebiasaan mengadakan tajen atau sabungan ayam, ataupun berbagai bentuk jui lainnya di areal pura, mungkin perlahan-lahan akan lebih mudah dapat dikurangi.  

                                           Foto Bersama Pinandita Bpk. Karnadi